Asiaaudiovisualexc09nitarusnitasari's Blog

Just another WordPress.com weblog

TONTONAN BERPENGARUH PADA POLA PIKIR ANAK April 14, 2009

Secara langsung ataupun tidak, tontonan bakal mempengaruhi pola pikir, sikap, maupun mental anak sehingga cenderung jadi serbainstan.

POLA PIKIR SERBA INSTAN
Bukan hanya kala menghadapi masalah dengan orang tua, saat anak mengalami berbagai kesulitan pun dia selalu mencari bantuan pada tokoh khayalannya tadi. Bahkan ketika mendapat persoalan yang ringan sekalipun, anak menyikapinya dengan cara-cara yang sebenarnya sudah tak bisa ditolerir. Semisal dengan melempar barang, membanting pintu, berbicara keras, memaki atau memarahi orang tuanya, mogok sekolah atau minggat dari rumah.
Tontonan yang menyajikan adegan-adegan kasar jelas akan mempengaruhi mental, pola pikir maupun pola sikap anak jadi serbainstan. Pasalnya, anak tak mampu menggunakan kemampuan berpikirnya secara jernih, hingga konflik yang terjadi pun akhirnya tak akan pernah terselesaikan. “Kemampuan anak dalam decision making dan problem solving jadi tak terasah,” tegas psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati.
Rahmi Dahnan, Psi., mengatakan mengkhawatirkan dari adegan atau tontonan seperti itu, anak akan terbiasa meniru lantas memilih “jalan pintas” ketika menghadapi masalah serupa. Dampak selanjutnya, berbagai perasaan dan perilaku negatif anak akan terakumulasi. Akumulasi perasaan dan perilaku negatif inilah yang kelak dalam jangka panjang akan mempengaruhi pertumbuhan kejiwaannya dan kemampuan berpikirnya jadi cenderung negatif.
Padahal, di satu sisi anak yang selalu mencari “jalan pintas” ketika menghadapi masalah akan merasa tertekan lantaran konflik yang dihadapinya tak pernah usai. Akibatnya, dia akan tumbuh jadi anak yang tak tahan terhadap guncangan masalah. Secara emosional, ia sangat rentan dan mudah terkena gangguan jiwa.

PENTINGNYA PENDAMPINGAN
Tak semua tontonan film ataupun sinetron untuk anak-anak bagus buat perkembangan anak. Jadi, ketika orang tua menemani anak nonton sebuah film/sinetron mengenai konflik anak dan orang tuanya, tanyakan pada anak. Dengan demikian anak pun terlatih untuk menentukan pilihan mana tayangan yang baik dan mana yang kurang pantas untuknya.
Sempatkan waktu untuk menonton bersama dan manfaatkan kesempatan emas tersebut untuk mengajarkan/menanamkan nilai-nilai, etika, dan moral. Konkretnya, ajarkan bagaimana bersikap baik dan menghadapi masalah tanpa harus membabi buta dengan emosi meledak-ledak. Tekankan bahwa dalam kondisi apa pun, adat bersopan santun tetap harus dijunjung tinggi. Ajarkan pula bagaimana cara mengontrol emosi. Dengan bekal yang kokoh tadi diharapkan saat anak menyaksikan tayangan yang menyuguhkan konflik, dia tak terpengaruh. Artinya, dia bisa mengontrol emosi, hingga tetap bisa bersikap manis dan menyampaikan argumentasinya dengan cara yang santun.

AJAK DUDUK BERSAMA
Lalu bagaimana menyikapi pengaruh tontonan tentang konflik di rumah bila kemudian sikap-sikap buruk itu justru diadopsi oleh si anak?. Orang tua harus lebih bijaksana ketika “berseteru” dengan anaknya. Apalagi bila kemudian si anak kedapatan melempar barang, membanting pintu, membentak atau bahkan malah berniat minggat dari rumah. Langkah pertama, ajaklah anak untuk duduk bersama agar bisa berdialog. Dalam hal ini, orang tua mesti memahami kebutuhan dan keinginan serta aspirasi anak. Dengarkan keluh-kesah mereka dan carilah akar permasalahannya dengan hati dingin.
Yang pasti, ketika berhadapan dengan anak yang tengah dilanda konflik, orang tua tetaplah harus bisa bersikap sabar dan mampu menahan emosi. Cobalah melihat masalah tersebut semata-mata dari sisi pandang si anak. Agar bisa seperti itu, pahami betul perasaan anak. Jangan pernah terpancing bila anak tiba-tiba menunjukkan reaksi dengan cara-cara negatif. Dengan kata lain, gali apa permasalahan yang dihadapinya. Kemudian setelah diketahui apa masalah yang memicu konflik tersebut, bantulah anak mencari alternatif-alternatif penyelesaiannya. Latihlah anak untuk memilih mana jalan terbaik yang mesti ditempuh guna menyelesaikan konflik yang dihadapinya.
Lalu dukunglah anak untuk melaksanakan/mewujudkan pilihannya. Yang terpenting, libatkan anak dalam mencari penyelesaian masalah. Tentu saja dalam hal ini orang tua sebaiknya jangan pernah mendikte atau mengatur harus begini dan begitu. Dengan demikian, anak dikondisikan untuk bisa mengambil keputusan sendiri. Lebih lanjut anak akan belajar untuk bertanggung jawab memecahkan masalah yang dihadapinya.
Dampak menguntungkan lainnya dari latihan semacam ini adalah anak tidak gampang “lari” dari masalah yang dialaminya. Ia pun tidak terbiasa menggunakan cara-cara yang tidak jantan seperti membanting pintu, memecahkan/melempar barang, berteriak-teriak, atau meneriakkan kata-kata yang kurang/tidak sopan serta tidak melakukan aksi mogok sekolah atau malah minggat dari rumah.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s